Memahami Perilaku Budaya Orang Madura
BELUM kering air mata kesedihan keluarga orang-orang Madura korban konflik sosial di Sambas (Kalimantan Barat, 1996/1997-1999), konflik horizontal serupa meletus di Sampit (Kalimantan Tengah) pada minggu ketiga Februari 2001. Bahkan kini telah merambah Palangkaraya, Kualakapuas, dan Pangkalan Bun. Meskipun banyak versi tentang jumlah korban-konon ada yang menyebut telah mencapai angka ribuan-yang tidak hanya kaum laki-laki, tetapi juga kaum perempuan dan anak-anak. Sudah pasti peristiwa ini tidak boleh terulang kembali bukan hanya dalam konteks mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa, melainkan lebih dari pada itu karena peristiwa tersebut sudah berada di luar jangkauan nalar setiap manusia yang masih memiliki hati nurani dan menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.
Sebagaimana apa yang terjadi di Sambas, konflik horizontal di Sampit pada awalnya dipicu oleh konflik individual, kemudian tereskalasi menjadi konflik kelompok yang pada akhirnya menjadi tindakan. Ironisnya, dengan adanya peristiwa-peristiwa ini stereotip negatif orang Madura kembali diungkit-ungkit oleh banyak kalangan baik para pengamat masalah-masalah sosial budaya maupun para pejabat pemerintahan. Padahal jika mau jujur tidak ada masyarakat mana pun yang steril dari stereotip negatif. Dan tidak sepantasnya kita menghakimi orang madura seperti itu, toh di hadapan tuhan kita sama dan tidak ada yang di beda-bedakan.
Barangkali tidak berlebihan jika dikatakan bahwa di bagian mana pun dari wilayah Negara Kesatuan RI dapat ditemukan orang Madura baik dalam kelompok besar maupun kecil. Hal ini menandakan bahwa daerah tujuan merantau orang Madura mencakup seluruh pelosok Tanah Air dan telah berlangsung beberapa abad yang lalu. Pada umumnya daerah tujuan utama orang Madura merantau adalah ke Pulau Jawa, kemudian ke pulau-pulau lain di Indonesia termasuk Kalimantan. Untuk membedakan antara Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan, orang Madura menyebut Pulau Kalimantan sebagai Jaba Dajah (Jawa Utara). Hal ini mudah dipahami oleh karena secara geografis Pulau Kalimantan berada di sebelah utara Pulau Madura. Ada kalanya juga orang Madura menyebut Pulau Jawa sebagai Jaba Lao’ (Jawa Selatan). Sebagaimana pada umumnya perantau, tujuan utama merantau orang Madura adalah berdimensi ekonomik, yaitu untuk memperoleh penghidupan yang lebih baik. Pada perkembangan selanjutnya tak luput dari dimensi sosial-budaya.
Selain pertimbangan dari faktor sosial ekonomi ini, secara kultural orang Madura mempunyai kewajiban untuk tetap menjaga dan memelihara ikatan kekerabatan di antara sanak keluarganya di mana pun mereka berada lebih-lebih di perantauan. Hal ini demi menjaga agar setiap dan sesama anggota keluarga tidak akan kaelangan obur artinya tidak akan berada dalam suasana kegelapan sehingga tidak tahu lagi siapa sanak keluarga atau kerabatnya. Akibat semua ini mudah dipahami apabila pola permukiman orang-orang Madura di perantauan selalu cenderung mengelompok.
Keberhasilan dalam proses adaptasi dan integrasi sosial ini tentu saja sangat berkaitan secara signifikan dengan salah satu nilai sosial-budaya Madura lainnya yang menuntut setiap orang Madura selalu dapat menempatkan dirinya dengan sebaik-baiknya dalam lingkungan sosial-budaya manapun sebagaimana tercermin dalam ungkapan lakona lakone, kennengnga kennengnge. Arti harafiah ungkapan ini adalah: kerjakan dengan baik apa yang menjadi pekerjaanmu, dan tempati dengan baik pula apa yang telah ditetapkan sebagai tempatmu.
Keberhasilan lain dari perantau Madura secara ekonomi yang ditandai dengan tingkatan kehidupan yang lebih baik daripada rata-rata tingkatan kehidupan penduduk asli sudah secara umum diakui karena keuletan orang Madura dalam mencari nafkah. Keuletan ini merupakan manifestasi dari setiap orang madura yang dipegang teguh oleh orang Madura dalam mencari nafkah.
Bahkan keuletan saja tidak cukup, orang Madura telah membuktikan dirinya sebagai pelaku ekonomi sangat berani dalam berkompetisi secara terbuka dengan pemodal besar. Misalnya ketika mereka secara terang-terangan melakukan transaksi bisnis (jual-beli) emas di depan toko emas, atau menjajakan perangko (termasuk amplop dan kertas surat) di kawasan kantor pos dengan rasa percaya diri dan tanpa rasa takut akan menderita kerugian. Padahal kemungkinan barang dagangannya tidak akan laku sangat besar. Lebih dari pada itu, etos kerja ini selalu dilandaskan pada semangat religiositas.
Berdasarkan paparan di atas, akhirnya dapat diambil beberapa titik penting bahwa dari sebagian karakteristik sosial-budaya orang Madura yang tercermin dalam sikap. Perilaku orang Madura pada dasarnya menjadi landasan dan semangat bagi terbentuknya adaptasi dan integrasi sosial dengan orang-orang di luar Madura. Penulis hanya bisa memberikan sedikit pemahaman bahwasanya orang madura tidak seburuk yang dipikirkan oleh orang-orang di luar sana.


Mengambil Efek Positif Televisi dan Mensikapi Efek Negatif Media (TELEVISI)


Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA-Kidia) bekerjasama dengan UNICEF Indonesia dan mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI menyelenggarakan Roadshow Kampanye Melek Media dengan tema: “Televisi Pelipur Lara, Penebar Dusta”; sepanjang bulan November 2007, untuk siswa SMP di Jakarta dan Depok.
Beberapa tahun terakhir, porsi jam tayang sinetron remaja di stasiun televisi seperti RCTI, SCTV, dan Indosiar menduduki peringkat atas. Tahun 2006 misalnya, jumlah jam tayangan sinetron remaja di berbagai stasiun TV mencapai 4.019 jam dengan 3.641 episode. Tahun 2007, jumlahnya diperkirakan lebih besar. Secara umum Isi tayangan tersebut tidak pernah lepas dari unsur kekerasan, seks, mistis, dan persoalan moral. Sangat sedikit sinetron sinetron yang memiliki pesan moral yang baik dan jelas.
Remaja sebagai penonton setia televisi, menghabiskan waktu sekitar 1600 jam untuk menonton televisi dalam setahun. Angka ini lebih besar dibanding dengan jumlah jam belajar mereka di sekolah yang diperkirakan hanya 1200-1400 jam dalam setahun. Dalam kondisi ketika daya kritis mereka belum terbentuk dengan baik, maka para remaja ini perlu memiliki kemampuan melek media atau media literacy agar dapat memahami isi pesan yang disampaikan oleh media dengan benar.
Faktanya adalah selain menghibur dan mendidik maka tayangan televisi juga dapat menimbulkan efek negatif bagi remaja, khususnya melalui tayangan sinetron yang sarat tema percintaan, kekerasan, kebencian, serta gaya hidup yang konsumtif dan hedonisme.
YPMA-Kidia adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pendidikan media untuk anak dan keluarga, serta kegiatan di bidang advokasi upaya perlindungan anak dari dampak negatif media massa. Kampanye Melek Media bertujuan memperkenalkan Pendidikan Media melalui jalur sekolah, yang akan mengantarkan siswa untuk mengembangkan sikap kritis terhadap isi media.
Mensikapi Efek Negatif Media (Televisi).
Televisi adalah metamedium, instrumen yang tidak hanya mengarahkan pengetahuan tentang dunia dalam bukunya Dedi Mulyana (1997). TV menawarkan ideologinya sendiri yang khas. Dengan tayangan yang batas-batasannya begitu cair: berita, fiksi, propaganda, bujukan (iklan), hiburan, dan pendidikan, TV mencampuradukkan berbagai realitas pengalaman kita yang berlainan: mimpi, khayalana, histeria, kegilaan, halusinasi, ritual, kenyataan, harapan, dan angan-angan, sehingga kita sendiri sulit mengidentifikasi pengalaman kita yang sebenarnya.
TV pada hakikatnya melakukan penetrasi yang lebih besar terhadap kehidupan kita dari pada ideologi-ideologi konvensional yang kita kenal selama ini. Hanya saja caranya begitu halus sehingga sulit untuk terdeteksi.
TV telah memberi andil terhadap penurunan bahkan kepunahan budaya lokal. Betapa minimnya pengetahuan masyarakat global ini terhadap akar budayanyan sendiri. Ketika tidak munculnya budaya-budaya lokal di layar kaca, secara bersamaan sirna dalam ingatan warganya.
Sistem budaya lokal yang seharusnya berfungsi membuat masyarakat bertahan hidup dan relatif tentram, kini setelah mengalami sinkronisasi budaya, justru menyebabkan masyarakat bingung, gagap, tak berdaya, mengalami konflik dan geger budaya di negara mereka sendiri. Budaya televisi, meminjam ungkapan Taufik Abdullah, adalah ‘budaya pop’ yang melarutkan identitas dalam keseragaman yang dangkal sehingga kita kahilangan kemampuan untuk mendefinisikan jati diri bangsa kita. Dengan kata-kata Umar Kayam, "TVRI maupun TV swasta belum mendukung kualitas yang ideal dari proses dialektika budaya yang justru penting disajikan dalam pembentukan sosok dan jati diri bangsa.
Perilaku yang ditirukan remaja dan anak-anak kita tidak sekedar bersifat fisik dan verbal, melainkan justru nilai-nilai yang dianut tokoh-tokoh yang dilukiskan acara tersebut. Pengaruh TV memang tidak harus langsung terlihat, namun terpaan yang berulang-ulang pada akhirnya dapat mempengaruhi sikap dan tindakan pemirsa. Dengan kata lain, pengaruh TV boleh jadi bersifat jangka panjang, substil, dan sulit dibuktika lewat penelitian-penelitian yang biasa dilakukan.
Para pengelola TV biasanya berlindung di balik pernyataan: "inilah yang diinginkan masyarakat kita" atau "Globalisasi tak dapat dihindarkan". Kita langsung menyerah alih-alih berfikir bagaimana agar kita membuat program-program TV yang bermutu, menarik secaya memberdayakan masyarakat, selain secara finansial menguntungkan. Kita lupa bahwa mayoritas masyarakat kita kurang terdidik, dan karenanya kurang kritis, termasuk mereka yang berada di pedesaan. Kita juga lupa bahwa sebagian besar dari pemirsa adalah anak-anak yang cenderung meniru apa yang mereka lihat dalam TV. Karenanya, keberadaan benda ini sangat besar pengaruhnya dalam proses pembentukan pola pikir dan karakter perilaku suatu masyarakat. Sehingga keberadaannya sangat penting dalam melakukan propaganda untuk kepentingan-kepentingan tertentu.
Dengan demikian, pengaruh negatif TV agaknya tidak lagi kita rasakan dan sulit kita amati karena kita sudah terbiasa bergaul dengan TV.
Persoalannya sekarang bagaimana kita dapat meminimalkan dampak negatif itu? Apakah yang harus dilakukan kita secara individual, keluarga hingga masyarakat secara kolektif? Tiga Agenda Utama Kenapa individu, keluarga dan masyarakat? Sebab persoalan efek negatif TV selalu memporakporandakan sisi ketahanan nilai yang dimiliki manusia secara individu, tatanan hubungan keluarga dan keretakan hubungan sosial masyarakat. Sesungguhnya ketiga pihak tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain, tidak bisa dipisahkan baik dalam memahami persoalan maupun dalam penanganannya. Pertama, secara individu, setiap orang memiliki tugas masing-masing untuk senantiasa membentengi diri dari berbagai pengaruh asing yang datang dan menggerogoti sendi-sendi pertahanan dirinya.
Hanya saja tentunya akan sangat tergantung kepada sejauh mana tingkat pemahaman seseorang terhadap persoalan TV dan segala efek negatifnya, inilah yang senantiasa menjadi persoalan. Pengetahuan yang parsial tentang dunia TV, menjadikan TV sebagai "dewa" yang tidak mungkin lepas dari perhatiaannya. Tentunya, bukan artian TV secara fisik, tetapi muatannya yang memberikan nilai dan ajaran baru bagi setiap audiensnya. Tingkat kecanduan yang kian akut, orang menyaksikan tayangan TV seolah-olah hadir tanpa cacat. Dengan berbagai kekuatannya, TV mendoktrinkan segala sajiannya hingga menjelma menjadi sebuah perilaku baru yang muncul dari individu yang (sesungguhnya) tidak tahu apa-apa.
Kedua, pada lingkungan keluarga, sesungguhnya televisi hadir lebih berfungsi sebagai penghibur. Arena pergaulan dan alur komunikasi yang di bangun pada suatu keluarga terkadang lebih efektif ketika ada sebuah media yang menjembatani kerekatan itu terbangun. sesungguhnya TV masih memiliki kedudukan yang terhormat pada kehidupan sebuah keluarga, sebab memberikan dampak yang positif. Namuan banyak keluarga yang tidak menyadari bahwa terasa atau tidak, perlahan tapi pasti, perubahan program tayangan TV semakin hari semakin membahayakan kehidupan keluarga.
Untuk mempersingkat kata, betapa bahayanya keberadaan tayangan TV hari ini, hingga mampu memporak porandakan tatanan kehidupan keluarga. Untuk menghindari berbagai tayangan TV, keluarga-keluarga di Amerika, kata Dedi Mulyana (1997) dalam bukunya, hingga menempatkan TV di gudang atau tempat-tempat yang tidak diminati anggota keluarga. Mereka sadar, bahwa pada kondisi zaman seperti ini, kita tidak mungkin menghindarkan diri dari berbagai perangkat media termasuk TV. Hanya saja, yang mungkin dilakukan adalah meminimalisir efek negatif TV dengan cara mempersempit aktivitas nonton TV. Sebab dengan menyimpan TV di tempat-tempat yang malas untuk dikunjungi, berarti membatasi diri untuk melakukan aktifitas menonton. Cara itu hanyalah salah satu cara yang telah dilakukan keluarga di Amerika, dan keluarga kita bisa melakukan berbagai cara agar keluarga terhindar dari efek negatif TV. Atau kita bisa meniru apa yang telah dilakukan Ade Armando dan keluarga dengan selogan "diet menonton TV".
Ketiga, secara kolektif, sesungguhnya masyarakat harus diselamatkan dari berbagai perilaku menyimpang yang diakibatkan program TV. Inilah yang menurut saya perlu dibangun kebersamaan antar lembaga-lembaga tertentu yang peduli terhadap kondisi masyarakat hari ini yang sudah sangat memperihatinkan, guna memagari atau menyembuhkan mereka dari faktor penyebab penyimpangan itu paling tidak yang datang dari tayangan TV. Lembaga-lembaga yang dapat melakukan aksi-aksi kemanusiaan guna menyelamatkan moralitas bangsa ini dapat berasal dari mana saja, baik unsur keagamaan atau LSM lainnya. Hanya saja menurut saya, organisasi keagamaan dengan berbagai simpulnya baik MUI, ICMI atau Ormas-ormas (Muhammadiyah, NU, Persis dan lainnya) memiliki tanggung jawab lebih. Selain itu mereka juga dapat melakukan aksi-aksinya dengan sangat efektif, mengingat mereka memiliki massa yang riil mulai tingkat pusat hingga grass root. Apapun naman aliansi itu, yang penting mereka memiliki agenda yang jelas yaitu menyelamatkan moralitas anak bangsa dari berbagai efek negatif TV secara makro, dan memantau juga mengkritisi segala bentuk tayangan TV yang selalu dianggap sumber masalah secara mikro.

Penghitungan Manual Diwarnai Interupsi Caleg DPD

Jakarta - Penghitungan suara manual di Hotel Boroubudur, Jakarta Pusat, dihujaniinterupsi. Pasalnya, calon anggota DPD Provinsi Banten, yang mengikuti penghitungan ini, tidak mau menandatangani surat berita acara. Protes ini karena adanya selisih suara antara perhitungan di tingkat Kabupaten, Provinsi dan Nasional. Salah satu calon anggota DPD, Umar Al-Fatah Lubis, mengatakan akan membawa kasus ini ke Mahkamah Konstitusi (MK). "Kami akan mengurus kasus ini sampai MK," katanya, Kamis (30/4). Data yang diperoleh Umar di tingkat Kabupaten sebanyak 21.496 suara, namun ketika berada di tingkat provinsi menyusut menjadi 20.001 suara.
Menurutnya, hampir semua calon anggota DPD Banten mengalami hal serupa, yang akibatnya perhitungan suara urung ditetapkan. Atas kejadian tersebut, para calon anggota DPD meminta diadakannya pemilu lanjutan atau penconterangan ulang. Menanggapi desakan pemilihan ulang, Ketua KPU Abdul Hafiz Ansyari menyatakan belum dapat memutuskan permintaan tersebut. "Pemilihan ulang hanya bisa dilakukan bila terjadi bencana alam," ujarnya.
Pada saat hujan interupsi para caleg DPD, Hafiz mengatakan penghitungan yang dilakukan oleh KPU bukan ajang memperkarakan kasus. "Ini bukan tempat memperkarakan kasus, kami sudah menjalankan sesuai dengan amanat undang-undang," ujarnya. Sedangkan Anggota KPU I Gusti Putu Artha mengucapkan terimakasih atas laporan para caleg. Ia yang bertugas sebagai tim pencari fakta akan menindaklanjuti laporan ini.

Program Pemerintah Atasi Kemiskinan Dinilai Tidak Efektif

Jakarta - Setiap pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen berdampak pada kemiskinan, terutama sektor-sektor jasa yang tumbuh di perkotaan. Karena itu, paradigma kenaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) akan berdampak pada peningkatan kesejahteran adalah tidak efektif. Pakar Kebijakan Ekonomi Publik dan Kemiskinan Vivi Yulaswati menyatakan itu dalam diskusi public di Hotel Harris, Jakarta, Kamis (30/4).
Menurutnya, kajian lembaganya menunjukkan temuan bahwa mengembangkan budaya birokrasi menuju good governance ternyata jauh lebih efektif ketimbang menaikan PAD."Jadi sekarang Pemda-Pemda bersama-sama memperbesar PAD-nya, ternyata tidak lebih efektif ketimbang mengembangkan budaya birokrasi good governance," tegasnya.Selain membangun budaya good governance.
Vivi menjelaskan, survei menunjukkan pemberdayaan masyarakat dapat menjadi alternatif keluar dari kemiskinan. "Intervensi pemerintah seharusnya memberikan bantuan modal untuk mengembangkan UKM-UKM. Agar masyarakat dapat mandiri," kata Vivi. Lebih jauh, Vivi menyatakan beberapa program pemerintah dengan label program penanggulangan kemiskinan senilai lebih dari Rp 60 triliun tidak bisa mengurangi jumlah kemiskinan di Indonesia. Sebaliknya, lanjut dia, program yang ada malah membudayakan masyarakat untuk tetap miskin. "Coba lihat program BOS, BLT apa efektif. Uang Rp 19.500 per bulan seperti anak saya terima ini tidak tepat sasaran," ungkap dia.

Komunikasi yang baik kunci sukses dalam hidup

Komunikasi adalah pusat nadi manajemen di setiap tingkat. Tanpa ketrampilan berkomunikasi, kita sulit mengemukakan pemikiran, meyakinkan pihak lain atau bernegosiasi dengan baik. Ketrampilan komunikasi memungkinkan kita memenangkan argumentasi, sukses dalam penjualan, melakukan mediasi, memberikan informasi bahkan membangkitkan inspirasi. Kebanyakan problem dalam bisnis bersumber pada kegagalan komunikasi yang berakibat pada salah paham dan timbulnya kecurigaan.

Komunikasi Dimulai dengan Menjadi Pendengar yang Baik
Kegagalan komunikasi umumnya bersumber pada elemen terpenting dalam komunikasi – mendengarkan. Apabila Anda ingin mempengaruhi pihak lain, yang perlu dilakukan pertama kali adalah mengerti bagaimana jalan pikiran pihak lain tersebut. Mendengarkan dengan baik adalah elemen dasar untuk mengerti jalan pikiran orang lain.
Berikut ini adalah cara-cara yang bisa digunakan agar anda bisa menjadi pendengar yang baik dalam waktu singkat:
 Fokus secara total pada orang yang sedang bicara pada Anda.
Jagalah kontak mata selama berkomunikasi. Jangan hentikan kontak mata ketika giliran Anda yang berbicara. Buat lawan bicara Anda merasakan bahwa anda telah memblok seluruh waktu anda untuk kepentingannya. Apabila ada kemungkinan Anda akan dipanggil selama pembicaraan, atau waktu Anda akan habis, sampaikanlah sebelum hal tersebut terjadi.
 Gunakan bahasa tubuh untuk mempertegas bahwa Anda mendengarkan dengan aktif.
Simpulkan pokok-pokok pikiran yang disampaikan, minta konfirmasi bahwa Anda menangkapnya dengan benar.
 Perhatikan agenda tersembunyi atau emosi yang tidak terucapkan.
Gunakan berbagai cara bertanya untuk mendapatkan jawaban yang sebenarnya :
* Pertanyaan tertutup untuk mendapat jawaban ya atau tidak.
* Pertanyaan terbuka untuk mendapatkan lebih banyak informasi
* Menggali lebih dalam, sebagai pertanyaan lanjutan.
* Pertanyaan “bagaimana bila” untuk mengajak berspekulasi.
* Pertanyaan mengarahkan, untuk mendapat jawaban tertentu.
 Siaplah untuk mengulangi apa yang disampaikan lawan bicara Anda.
Biasanya jawaban lebih baik akan diperoleh bila pertanyaan dijelaskan dulu dan Anda memberi waktu berpikir.
Bukan Hanya Apa yang Diucapkan yang Mempengaruhi Komunikasi.
Cara Anda berbicara membawa pengaruh besar pada kualitas interaksi dengan pihak lain. Intonasi suara, ekpresi ketika bicara serta bahasa tubuh bisa jadi bicara lebih banyak dibanding dengan apa yang anda ucapkan. Karenanya pelajari cara menggunakan bahasa tubuh dengan baik.
Posisi duduk yang condong ke depan mendekati lawan bicara memberikan penekanan yang lebih baik. Apabila berdiri, berdirilah dengan tegak. Mata yang terbuka lebar serta gerakan tangan akan menambah kesan yang baik.
Kekuatan Kata-kata.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menambah kekuatan kata-kata yang anda sampaikan.
* Berpikir lah sebelum bicara
* Pilih kata-kata dengan baik, hindari penggunaan jargon.
* Gunakan bahasa yang paling sederhana untuk menghindari salah engertian.
* Ekspresikan perasaan anda untuk memperkuat apa yang anda ucapkan.
Bernegosiasi
Banyak negosiasi bisnis terjadi diluar meja negosiasi. Masalah menjaga reputasi dan menyelamatkan muka seringkali jadi batu sandungan jalannya negosiasi formal. Untuk mengatasi ini usahakan untuk mengadakan pertemuan informal sebelum negosiasi. Pertemuan ini adalah saat yang baik untuk membangun hubungan baik, memperkirakan hal-hal yang mungkin muncul dalam negosiasi dan mendapat gambaran hal-hal yang bisa diperjuangkan dalam meja negosiasi. Pada saat formal negosiasi berlangsung, sering kali waktu istirahat yang lebih santai dapat di manfaatkan untuk mencairkan ketegangan.
Berikut ini adalah beberapa teknik dasar dalam negosiasi :
* Pisahkan masalah dari pelaku. Yakinkan semua pihak bahwa negosiasi ini adalah usaha dari semua pelaku untuk memecahkan masalah, bukan pertentangan antar pelaku.
* Pentingkan keadilan. Jangan berusaha untuk menang sendiri.
* Pisahkan mana yang penting untuk di perjuangkan dan mana yang bisa dikompromikan.
* Sediakan sarana untuk menyelamatkan muka. Adanya pihak yang merasa kalah dalam negosiasi sering kali mengancam bertahannya hasil negosiasi.
Berargumentasi
Anda tidak bisa memenangkan semua argumentasi. Mulailah dengan menentukan apakah anda perlu berargumentasi, atau sebenarnya ada cara lain untuk meyampaikan pesan Anda. Apabila Anda perlu beradu argumen, pilihllah waktu dan tempat yang tepat. Usahakan argumentasi dilakukan di tempat Anda atau di tempat yang netral. Untuk membangun argumentasi yang logis sehingga mendukung pesan yang ingin Anda sampaikan, sebaiknya tuangkan dulu pemikiran Anda di atas kertas. Tuliskan setiap pokok pikiran dan fakta dalam sebuah kotak, lalu gambarkan hubungan antar masing-masing kotak tersebut. Yakinkan semua pokok pikiran dan fakta-fakta ini mendukung kesimpulan yang anda perjuangkan. Ingatlah “peta pikir” ini pada saat and melakukan argumentasi. Peta pikir ini akan membantu anda menyampaikan pokok-pokok pikiran anda dengan logis dan meyakinkan.

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diterapkan dalam adu argumen:
Buat lah poin-poin sederhana yang disetujui semua pihak.
* Gunakan bahasa yang jelas.
* Pusatkan perhatian pada masalah yang dibicarakan, bukan pada individu-individu.
* Pahami pandangan pihak lain.
* Sampaikan dengan jelas bahwa Anda memikirkan dan berbicara untuk pihak lain juga. Penggunaan kata “kita” lebih efektif dibanding kata “saya”.

Kesimpulan
Ada perbedaan yang sangat besar antara bicara dan dimengerti. Pembicara yang baik tau pentingnya mendengarkan untuk dapat membuat argumen nya lebih kuat dan pada saat yang sama membuat pihak lain lebih bisa menerima argumen yang disampaikan. Komunikasi yang baik bukan tentang membuat apa yang disampaikan terdengar baik, tapi tentang bagaimana pesan yang disampaikan jelas bagi pihak lain.

Efek Dari Media Massa ( Televisi atau Cetak )

Efek Dari Media Massa ( Televisi atau Cetak )

Realitas media massa terutama saat ini, terutama televisi menjadi sebuah tanda tanya besar bagi masyarakat, apakah televisi sudah bisa menjalankan fungsi dan perannya sebagai media ? bukan hal yang tabu lagi ketika kita melihat bentuk-bentuk penayangan program acara saat ini, lebih banyak didominasi oleh penayangan sinetron dan infotaiment. Konsumsi masyarakat terhadap media televisi berubah secara signifikan, yang awalnya mereka mengkonsumsi televisi hanya sebagai pengetahuan mereka tentang informasi, namun kini merambah sebagai hiburan, pengisi waktu luang dan kebutuhan sehari-hari. Di indonesia hampir seluruh penduduk indonesia mempunyai televisi, dan konsumsi media mereka lebih didominan oleh televisi. Kita dapat menilik dari jam tayang program acara sinetron-sinetron dan infotaiment. Infotaiment, jam tayang infotaiment ditelevisi ditayangkan sebanyak 4X tayang yaitu pagi, siang, sore dan malam. Sinetron penayangannya juga tidak jauh berbeda dengan infotaiment, pagi, siang, sore, dan malam juga. Dengan agenda penayangan tersebut sudah dapat dilihat bahwa konsumsi masyarakat setiap hari adalah infotaiment dan sinetron.

Target audience yang menjadi sasaran adalah ibu-ibu rumah tangga dan remeja-remaja. Ketika pagi dan siang hari yang menjadi konsumsi televisi adalah ibu-ibu rumah tangga, sore dan malam hari adalah remaja-remaja. Infotaiment menayangkan realitas kehidupan para selebriti secara detail yang membawa emosi penonton untuk terus mengikuti pemberitaan tersebut. Sinetron menampilkan gaya penayangan yang tidak sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat indonesia, dimana sinetron selalu menampilkan gaya kehidupan masyarakat kelas atas, sementara audience dari sinetron adalah masyarakat kelas menengah ke bawah. Realitas seperti itu secara tidak langsung memberikan perubahan terhadap prilaku dan pemikiran masyarakat untuk bisa menjadi apa yang mereka lihat.

Media telah mampu menciptakan perubahan budaya, dimana biasanya ibu-ibu rumah tangga di rumah mengerjakan kegiatan sebagai ibu rumah tangga menjadi khayalak yang pasif. Khayalak yang hanya mampu melihat dan meniru tanpa mampu mencerna mana yang layak dilihat atau yang tidak layak. Terjadinya konsumerisme masyarakat terhadap media terjadi, karena media telah melakukan agenda setting yang mengatur apa yang harus dilihat audiencenya. Keseragaman acara dan tayangan diberbagai stasiun televisi juga menjadi salah satu faktor terjadinya konsumerisme media. Apa yang terjadi dimasyarakat tidak telepas dari apa yang diberikan media yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi khayalak.

Media mampu memberikan efek yang negatif dan positif terhadap khayalaknya, menurut teori efek sentrifugal dan sentripetal. Dari teori efek sentrifugal menekankan bahwa modernisasi, kebebasan dan mobilitas merupakan efek positif yang diharapkan dari media. Sebaliknya, sisi negatifnya melihat bahwa media menyebabkan terjadinya isolasi dan hilangnya nilai-nilai. Teori efek sentripetal, dari sisi positifnya melihat bahwa media bersifat integratif dan menyatukan. Sedangkan sisi negatifnya melihat media sebagai penyebab terjadinya homogenisasi dan kontrol manipulatif.( Croteau, David & William Hoynes.2000 ). Dari kedua teori tersebut, apa yang ditayangkan media televisi saat ini mengisolasi masyarakat untuk selalu berada dirumah mengikuti acara-acara televisi dan menghilangkan nilai-nilai budaya lokal dalam kehidupan masyarakat, serta memanipulasi realitas yang ada. Munculnya media-media baru yang memberikan alternatif pilihan bagi masyarakat untuk memilih informasi yang mereka butuhkan secara bebas. Namun bebasnya bermunculannya media-media baru ( media cetak ) tidak mempunyai pengawasan yang ketat dari pihak pemerintah, sehingga banyak media dalam informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat indonesia. Konsumerisme media yang terjadi dimasyarakat juga dipengaruhi oleh penguasa media yang mempunyai kekuatan penuh untuk mengatur media yang dimiliknya tanpa melihat apa yang menjadi kebutuhan masyarakat terhadap media. Hilangnya idiologi media sebagai media informasi dipengaruhi oleh idiologi dominan sang penguasa yang memberlakukan media sebagai sarana penyampaian idiologinya yang mampu menimbulkan profit, seperti yang dikatakan McQuail, dalam teori media kritis bahwa media dilihat sebagai alat dari kelas yang dominan dan sarana dimana kapitalis mempromosikan kepentingan pembuatan profitnya. Media menyiarkan idiologi dari kelas yang berkuasa dalam masyarakat dan menekan kelas-kelas tertentu.

Masyarakat sendiri sebagai khayalak secara tidak langsung telah dijajah oleh sistem kapitalisme melalui media, dimana media melalui penguasanya lebih mengutamakan privatisasi, keuntungan personal dan kompetisi bebas. Bentuk penjajahan yang halus melalui media, masyarakat selalu disuguhkan dengan ralitas-realitas yang tidak sesuai kehidupan sosialnya, akan menimbulkan hilangnya nilai-nilai sosial, membelenggu kretifitas dan memicu terjadinya konflik sosial.

Dalam kaitannya dalam hal ini seharusnya media harus mampu menjadi wacthdog bagi masyarakat yang menjalankan fungsinya sebagai media, Yaitu :

Sebagai sarana informasi yang membantu masyarakat dalam mencari informasi- Informasi. Media mampu memberikan informasi-informasi yang up to date kepada masyarakat secara rill (nyata).

Sebagai sarana pendidikan masyarakat dalam kehidupan sosial. Media mapu memberikan pendidikan kepada masyarakat dalam menjelajahi ilmu pengetahuan secara luas dari berbagai aspek.

Sebagai hiburan masyarakat. Media mampu memberikan hiburan kepada masyarakat baik secara fisik maupun rohani.